Selasa, 30 Juli 2013

KACAMATA (aku bisa nulis cerpen!)


“Kamu tu jadi anak kok nggak tau diuntung sih? Masih banyak orang yang hidupnya lebih susah.” Kalimat itulah yang selalu kuingat dari mulut seorang wanita yang melahirkanku. “Kapan kamu sadar sih nak?”, katanya lagi, aku hanya diam meski berontak dalam dada. Beliau memang lebih tua tapi bukan berarti selalu benar kan? Aku anak pertama dari dua bersaudara yang terlahir dalam keluarga yang takkan mau aku tukarkan. Hmmm anak pertama, ada untungnya, ada ruginya juga sih. Ya untungnya aku sudah lebih lama menghirup nafas di dunia daripada adikku.
Pagi saat di sekolah. “Hallo Ocha...”, sapa beberapa temanku saat aku datang. Aku memang senang berteman dengan siapa saja dan hampir tak punya musuh, tapi aku merasa hampa dan sepi meski aku punya beberapa teman dekat. “Kamu duduk sama siapa Vik?”, tanyaku pada Vika. “Aduh...aku duduk sama tasya Za”, jawab Vika. Ya, namaku Feroza dan biasa dipanggil Ocha atau Za. “Ni sama Ima aja Za”, pinta seorang teman bernama Fina. Kita berenam memang sudah dekat semenjak menginjakkan kaki di SMP ini, kemana-mana selalu bersama, tapi kadang aku bertanya apakah mereka ingat akan keberadaanku saat aku tidak sedang bersama mereka. Diantara kelima temanku Vika, Tasya, Ima, Fina, dan Amara, aku memang yang paling ketinggalan masalah wawasan dunia luar, teknologi, lagu-lagu, berita seleb, dan tentunya urusan-urusan cewek. Maklumlah, anak pertama, tidak seperti mereka semua punya kakak yang bisa jadi tempat bertanya tentang pengalamannya atau mungkin tanpa bertanya pun mereka bisa melihat langsung dan mengikuti perkembangan yang terjadi lewat kakak-kakak mereka. (Kerugian pertama jadi anak pertama, apa-apa jadi pengalaman pertama buat orang tua)
“Za, liat ini lucu kan...bagus nih!!,” kata ibuku. Biasa sesama perempuan kalau udah ngomongin baju dan pernak-perniknya dah pasti langsung nyambung. “Lucu apanya sih bu.....nggak mau ah terlalu nyentrik ntar dikira artis kesasar, modelnya jangan aneh-aneh gitu, yang biasa aja,” kataku. “Ya terserah kamu, tapi jangan nyesel lho,” tegas beliau, aku akuin selera beliau memang esklusif dan nggak ketinggalan zaman lah. “Andai Ibu masih muda...wahh keren ni,” gerutunya. Oh Ibuku aku sangat menyanyangimu, bangga dan kagum padamu tapi mengapa ada hal yang tak bisa terselesaikan antara kita, tatapku penuh arti. Begitulah kiranya perdebatan yang sering terjadi jika sedang belanja bersama. Hubungan dengan ibuku sih baik-baik saja, apalagi masalah perempuan ke salon maupun urusan belanja, kita selalu kompak, meski ada sedikit perdebatan seperti tadi. (Keuntungan pertama jadi anak perempuan satu-satunya)
Malam adalah temanku karna dalam kesunyian itulah aku bisa berkawan dengan diriku sendiri, menangis dan mengiba pada Rabb-ku. Ya Allah...tolong aku, aku tak tau apa yang aku inginkan. Aku merasa sendiri meski hampir tak punya musuh, semua orang tidak bisa mengertiku, bahkan terkadang aku sendiri tak mengerti kenapa aku seperti ini. Aku tau orang tuaku juga sayang padaku, mereka selalu mendoakanku dan bekerja keras untukku, tapi kadang aku seperti anak terlantar yang tidak diperhatikan. Aku sering membantah perkataan keduanya, bukan karena lancang dan tak tau sopan santun, itu karena aku juga yakin aku benar dengan pikiranku.
“Kamu tu, dinasehatin malah jawab terus!!”, ucap Ayahku. Berontakku dalam dada, aku hanya ingin didengarkan, pernah nggak sih mereka melihat dari kacamataku? Tak adil bagiku, namun jika ingin membantah lagi, terlalu kerdil aku teringat semua jasa kedua orang tuaku. Apakah begitu menyusahkannya diriku sebagai anak? Aku selalu mengerjakan apa yang bisa kukerjakan sendiri, tidak menunggu orang lain, karena itu yang diajarkan keduanya padaku. Tataplah aku....Ayah......Ibu...aku begitu menyanyangimu, maafkan aku yang selalu menyakiti hatimu.
****
“Kamu sakit Za??”, tanya Vika di kelas. “Enggak kok, emang kenapa?”, jawabku. “Beda aja, hari ini kamu masih murah senyum dan kalem-kalem aja, tapi....ada yang hilang.”, kata Vika lagi. “Apaan tu yang hilang...ya ntar kita buat laporan ke polisi tentang kehilangan,” kataku sekenanya. “Keliatan dari raut wajahmu Za, kayak kurang semangat.”, Vika belum mau berhenti mengintrograsiku dan aku hanya membalasnya dengan senyuman sambil lalu. Terlalu cuek kah diriku atau terlalu gengsi untuk mengakui jika aku lemah, tapi ini bukan aku. Feroza yang dikenal adalah Feroza yang selalu ceria, penuh semangat, cerewet, sedikit lugu, dan sok berani. Aarrrrghhhh aku juga tak tau apa yang sedang terjadi.
“Feroza...,” Guru geografi memanggil namaku untuk menyerahkan hasil ulanganku. Sebagian tema-teman berbisik sembari menatapku, menduga-duga nilai ulanganku. “Waduh....angkat tangan aku,” kataku menolak dugaan mereka sambil meninggalkan bangku. “Berapa Cha??” tanya Tasya dan Amara hampir bersamaan. Aku menggeleng dan berkata,”aku nggak belajar!!”. “ Kalau aku sih alamat remidi..”, celoteh Vika. Saat kubuka lembar ulangan itu, 76 nilaiku, teman-teman juga mengelilingiku. “Wahh kamu nggak belajar ja dapat 76, apalagi kalau belajar, pasti dapat dua kali lipatnya,” sindir Vika. Target pertama ‘asal nggak remidi’ terselesaikan, meski banyak teman yang tidak percaya aku tidak belajar, entahlah hampa dan aku hanya ingin mengalir saja menjalani hidup.
Yaa Rabb tak bermaksud aku untuk selalu mengeluh atau bahkan mendekte-Mu. Aku hanya seorang anak yang sedang dalam proses mencari jati diri atau seorang anak yang ingin diperlakukan dewasa tapi belum siap untuk itu.
Baru saja sampai dirumah, banyak hal yang terjadi diluar sana. Menghela nafas. “Kamu tu udah gedhe...jaga sikap, jaga mulut,” nasihat ibuku. “Katanya mau diperlakukan sebagai anak gedhe, ibu sudah ijinin kamu main malem asal jelas kemana, mau ngapain, dan sama siapa, tapi inget tugasmu cuci piring. Eh pulang main kok langsung tidur,” tambahnya lagi. Antara capek dan ngrasa bersalah, aku pun pergi ke belakang untuk mencuci piring. Tapi masih saja kudengar ceramah dari penasehat umum rumah ini, Ibuku. “Kalau maunya main terus itu anak kecil, kalau ngakunya sudah besar itu harusnya masak, nyuci baju, nyetrika”........ya intinya bekerja, hidup yang realistis, mesti berusaha untuk hari ini dan esok....bla...bla...terlalu panjang ceramah beliau. Dan aku terlalu merasa lelah hari ini.
Selesai mencuci piring aku pun langsung masuk kamar, merebahkan badan, pikiranku masih melayang ke sana ke mari. Entah. Aku benar-benar tak tau dengan diriku, apa yang kuinginkan, apa yang kupikirkan, semuanya terasa salah dan menyesakkan dada. Sungguh, aku lelah bermain-main dengan pertanyaan yang tak bisa kujawab. Akhirnya aku pun terlelap dengan sendirinya.
****
Pagi saat matahari belum memberikan kehangatannya, kurasakan tubuhku menggigil, kedinginan. Ayah membangunkan satu per satu anggota keluarga rumah ini untuk sholat subuh berjama’ah. Setelah sholat subuh aku langsung kembali ke tempat tidur mencari kehangatan dibalik selimut. Ayah, Ibu dan adik laki-lakiku sudah melakukan berbagai aktivitas, Ibu memanggilku untuk membantunya di dapur atau mandi terlebih dahulu dan siap-siap ke sekolah. Aku hanya diam, pusing sekali rasanya jika menggerakkan badan. Ibu terus memanggilku, “Cha....bangun ini sudah jam 6, ayo bangun!!!”. Ingin kujawab panggilan Ibu, namun tertahan, rasanya lelah sekali. Karena tak mendapat jawabanku, Ibu menghampiriku ke kamar, melihatku masih terbaring berselimut. “Aku nggak enak badan,” jawabku lirih. “O..yasudah istirahat saja”, kata Ibu meninggalkanku karena masih banyak yang harus beliau kerjakan. Kedua orang tuaku bekerja, aku dan adikku sama-sama sekolah, dan kami tidak punya pembantu, jadi urusan rumah harus selesai sebelum jam 7 pagi. Setelah semuanya siap Ayah dan Ibu pergi bekerja, adikku pergi ke sekolah, dan aku? Masih terbaring di tempat tidur, Ibu tadi sempat menawariku sarapan tapi nanti saja tolakku. Ah semua sibuk dengan urusannya masing-masing, teman-temanku juga pasti tidak ingat jika hari ini aku tidak ada di antara mereka, mereka tidak ingat aku. Prasangkaku terus berteriak, sedih aku. Sambil merasakan tetesan-tetesan yang mengalir dari mata aku pun kembali terlelap.
Jam 9 ternyata Ibu kembali ke rumah, melihat keadaanku, memberiku obat. “Maaf ya nak, meninggalkanmu dalam keadaan begini, jangan lupa makan, Ibu ada rapat harus kembali ke kantor,” katanya lembut penuh kasih. Kemudian beliau kembali meninggalkanku sendirian di rumah. Aku hanya terdiam dan kembali basah karena air mata terus mengalir. Ternyata dugaanku salah, Ibu rela kembali ke rumah melihat keadaanku, meski di tengah kesibukannya. Sebelum pulang dari mengajar di sekolah Ayah menelponku, menanyakan aku ingin makan apa Ayah akan mencarikannya. Kali ini, aku salah lagi. Meski Ayahku sering hanya diam saja, tapi beliau juga memikirkanku, mengingatku, tentu saja di tengah-tengah aktivitasnya.
Terkadang pikiran kitalah yang menyebabkan semuanya jadi rumit, prasangka-prasangka yang belum tentu benar, atau kacamata kita yang terkadang membuat yang jelas jadi buram. Aku tak peduli meski teman-temanku atau siapa pun tak peduli padaku, karena aku punya orang-orang yang selalu peduli dan mengertiku, ya keluargaku. Kuncinya ada pada cara kita berpikir dan memandang hidup ini. Sungguh aku dulu sangat sombong, hanya mengeluh dan tak mau bersyukur. Jika setiap yang terjadi di syukuri dan dijalani dengan ikhlas tentu saja semua jadi ringan. Malam ini senyum kembali merekah di rumah ini, hangat berkumpul bersama keluarga yang sangat aku sayangi dan menyanyangiku, mengakhiri perang dingin yang kemarin sempat menegang, uppss bukan perang dingin. Semua salahku, karena prasangkaku dan pikiranku yang menutupi mata hati. Ya gejolak remaja yang merasa tidak dimengerti oleh siapapun. Tidak mau lagi dianggap sebagai anak kecil, tapi ternyata dunia tak seindah yang kubayangkan saat aku masih kecil. “Tua itu pasti Cha, tapi dewasa itu pilihan nak, jangan terburu-buru, ikuti saja semua prosesnya, dan bermetamorfosalah menjadi kupu-kupu, gadis kecilku,” ucap ibuku sedikit menggoda. “Ahh ibu...,”kataku sambil memeluknya.
Masing-masing orangtua punya cara yang berbeda untuk melindungi anaknya, punya tutur yang beda untuk menasihati putrinya, memiliki sikap yang tidak sama dalam mendampingi putrinya.
(My Mom)
Tiba-tiba handphone-ku bergetar, ada sms. Ya sms dari teman-temanku, menanyakan aku sakit apa, apakah aku baik-baik saja, mereka juga menceritakan apa yang terjadi di sekolah hari ini, kelucuan-kelucuan. Ahh mereka juga ternyata perhatian padaku. Aku punya teman-teman yang selalu bisa menghadirkan tawa dan lupa tak kusyukuri. Hari ini, semua yang kupikirkan selama ini salah. Salah besar. Maafkan aku Ya Allah. Ingin bahagia menjalani hidup? Syukuri hidupmu, carilah celah dalam memandang masalah agar bisa selalu disyukuri, selalu ada alasan untuk bersyukur.

Analisis Cerpen


Orang-orang Batu di Sekeliling Bebatuan
Antara Fiksi dan Realita
oleh: Amalia Ulinnuha

Sastra dapat diartikan sebagai ungkapan pribadi, pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan dalam suatu bentuk gambaran konkret dengan alat-alat bahasa. Wellek dan Warren (1993, via Wiyatmi 2008: 14) telah mencoba mengemukakan beberapa definisi sastra, yang sebenarnya semua definisi yang ditawarkan adalah dalam rangka mencari definisi yang paling tepat. Pertama, sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Kedua, sastra dibatasi hanya pada “mahakarya” (great books), yaitu buku-buku yang dianggap menonjol karena bentuk dan ekspresi sastranya. Ketiga, sastra diterapkan pada seni sastra, yaitu dipandang sebagai karya imajinatif. Menurut Wiyatmi (2008: 28) dalam dunia cipta sastra dikenal jenis puisi, drama, dan naratif (meliputi novel atau roman dan cerita pendek, serta novelet).
Cerita pendek termasuk pada teks naratif karena yang dimaksud dengan teks-teks naratif ialah semua teks yang tidak bersifat dialog dan yang isinya merupakan suatu kisah sejarah, sebuah deretan peristiwa. Bersamaan dengan kisah dan deretan peristiwa itu hadir cerita.
Karya sastra dapat dianalisis menggunakan berbagai pendekatan, salah satunya adalah pendekatan mimetik. Pendekatan mimetik yang mengkaji karya sastra berupaya memahami hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Kata realitas di sini bisa berarti keadaan sosial, budaya, sejarah, pendidikan, ekonomi, hukum, agama, maupun politik. Pendekatan mimetik ini hampir serupa dengan pendekatan sosiologi sastra. Pada pendekatan sosiologi sastra fokus analisis memang pada realitas social dan aspek sosial kemasyarakatan.
Sebuah buku dengan judul Perempuan Tanpa Lubang yang di dalamnya terdapat empat belas cerita pendek karya Hasta Indriyana membuat terpaku sejenak dan bertanya-tanya apakah yang dimaksud si penulis? Ada salah satu cerpen yang dari judulnya saja membuat pembaca bertanya dan menjadi penasaran. Pada cerpen orang-orang batu karya Hasta Indriyana ini dikisahkan ada dua muda-mudi yang menjalin asmara, Siti dan Robin. Kelas sosial ekonomi mereka berbeda Siti adalah tukang buruh cuci sedangkan Robin adalah anak dari majikannya namun bukan hanya status sosial yang memisahkan cinta mereka. Di perkampungan tempat Siti tinggal akan terjadi penggusuran, Robin gencar membantu warga untuk melakukan penolakan. Beberapa waktu kemudian Robin menghilang tanpa jejak, penggusuran tak terelakkan. Siti berdiri menyaksikan kampungnya diratakan dengan tanah, dengan matanya sendiri dia melihat ayah Robin bagian dari orang-orang dibalik penggusuran. Tersiar kabar Robin diculik oleh para konglomerat yang tidak rela rencananya mendirikan perumahan mewah dan lapangan golf terhalangi. Dalam penantian itu ternyata Siti mengandung anak dari Robin.
 Latar tempat, waktu, dan suasana memang tidak diuraikan secara detail karena dalam cerpen memang harus ada pemadatan. Namun dapat ditangkap bahwa realita yang ingin digambarkan adalah sebuah perkampungan kumuh di tengah kota metropolitan beserta seluruh nyanyian ironinya. Ya, sungguh ironi-ironi potret zaman millennium ini coba dilukiskan Hasta dalam cerpen orang-orang Batu. Bahasa yang digunakan penuh dengan metafora namun bias mudah dipahami.
Kisah klasik yang ada pada perkampungan kumuh, miskin, dan sempit adalah tentang penggusuran. Orang-orang miskin seslalu kalah dengan ambisi para konglomerat yang berfikir bagaimana bias punya daya jual dan menghasilkan uang. Perkampungan Tukangan tempat tinggal Siti akan digusur, dijadikan lapangan golf dan perumahan mewah. Masyarakat dijanjikan ganti rugi dan lingkungan hidup yang lebih baik. Robin menolak keras agenda ini dan berada di baris terdepan untuk melawan. Perkampungan kumuh di tengah kota metropolitan memang sering diperbincangkan, tapi bagaimanapun disitulah mereka tinggal. Hidup mesti seimbang bukan? Kenyataan yang ada hidup penuh dengan kompetisi secara kapitalis. Lihat saja di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Batam. Pinggir-pinggir jalanan dihiasi dengan gedung bertingkat, taman-taman hanya terlihat dipojok di atas tanah berkeramik. Sudah jarang dijumpai tanah lapang, lembah yang hijau, pepohonan yang teduh, dan rumput yang hijau.
“Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari perkampungan ini, Siti. Tentang anak-anak kecil yang berlarian di lorong-lorong rumah, tikus-tikus dan kecoa yang sesekali menggoda kita, tentang Yu Karni dan Kang Parto yang sedih karena dua anaknya meninggal oleh demam berdarah, atau kamu yang gemar rebut dengan ibumu sendiri.”
“Mas Robin tidak suka Siti ya? Marah?”
“Bukan. Bukan itu maksudku. Di sini, di perkampungan ini telah kita saksikan hidup dan pelajaran tentang kematian yang alami. Aku, kamu, dan orang-orang tumbuh di tengah kemiskinan. Dan kita belajar di atasnya. Membaca isyarat, mengeja huruf-huruf tentang kemanusiaan, dan kebersamaan. Tapi di tempat ini segalanya juga keras, seperti gedung-gedung yang menjulang jauh di sana. Angkuh dan tak mau tahu. Keras seperti sifatmu.”
Perkampungan kumuh biasanya juga padat penduduk, sanitasi yang tidak baik dan tentunya lingkungan sekitar membuat banyak penyakit menyerang. Demam berdarah, salah satu penyakit yang rutin menyerang di musim pancaroba, virus ini senang berda di tempat-tempat lembab dan perkampungan kumuh yang padat penduduk menjadi sasaran empuk.
Dari penggalan di atas juga bisa dikaitkan dengan judul cerpen ini Orang-orang Batu. Penulis ingin menggambarkan realitas dari dua sisi, kaya maupun miskin mereka sama saja kerasnya. Kepentingan dengan kepentingan saling beradu, bukan yang paling kuat atau yang paling pintar yang bertahan, tapi yang paling punya uang. Mendengar kata penggusuran sering pikiran kita tertuju pada SATPOL PP atau para preman-preman yang tanpa belas kasihan. Padahal mereka sama dengan posisi kita. Sama-sama miskin dan sedang menjalankan tugas untuk mencari uang. Kadang juga mereka tidak ingin melakukan itu, namun apa daya. Orang miskin ditarungkan dengan orang miskin. Orang-orang batu! Sama kerasnya.
Tokoh Siti mempresentasikan sosok kebanyakan perempuan di masa kini rajin, pintar, dan mau bekerja keras namun tidak bisa menikmati bangku pendidikan sebagaimana mestinya. Anak perempuan satu-satunya dari kedua orang tua yang sama-sama menjadi buruh serabutan. Fakta ini bisa ditemui pada masyarakat kita sekarang ini, betapa tidak banyak sekali anak-anak yang memiliki potensi dan juga keinginan untuk belajar hanya karena nasibnya menjadi miskin dia tidak bisa sekolah.
“Bu, kamu ini jangan suka bermimpi. Sekolah itu mahal. Jauh dari jangkauan orang-orang seperti kita. Beda dengan Nak Robin.”
“Tapi Siti kan pintar dan rajin. Juga patuh pada orang tua.”
“Yang bias masuk sekolah kan bukan yang pintar, rajin, atau patuh, tapi yang punya duit.”
Sepenggal dialog yang menyatakan bahwa sekolah itu untuk orang yang berduit, tidak cukup dengan pintar, rajin, patuh, atau sekedar punya keinginan untuk belajar.
“Mas Robin, katamu, perempuan harus mampu menjadi baja. Siap ditempa menjelma apa saja. Seperti keris yang pantang menangis. Mas Robin, kami di mana? Aku mencarimu. Mengertikah, saat ini aku mengandung anakmu, Mas!”
Penggalan di atas member kabar bahwa kini Siti tengan mengandung anak Robin, padahal mereka belum menikah. Fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat yaitu hubungan intim sebelum pernikahan. Entah alasan globalisasi, modernitas, budaya metropolitan, atau apalah namun para muda-mudi sudah sring melakukan hubungan intim tanpa dosa meski belum menikah.



DAFTAR PUSTAKA

Indriyana, Hasta. 2005. Perempuan Tanpa Lubang. Yogyakarta: Pinus.
Wiyatmi. 2008. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Selasa, 09 Juli 2013

Bisa Begitu



Aku tak tau apa yang terjadi
Kau bisa begitu dekat sekaligus begitu jauh
Kau bisa begitu baik
tiba-tiba begitu jahat
Kau bisa begitu mengerti dan begitu acuh
Kau bisa begitu hangat atau begitu dingin
ya, begitu dingin

begitu bisa
begitu bisa
bisa begitu

Jika fajar menyapa
kau terbangun
Sekali saja jawab aku dari hatimu
Apa yang harus aku lakukan?
Tetap bertahan, mencoba bersabar menunggu dan mengertimu?
Apa masih bisa?
Apa masih pantas?
Apa masih mampu?
Apa masih layak?
Apa masih bisa begitu?


(21-10-12)

Senin, 29 April 2013

Aku Masih Berlari Menujumu



Aku harus mencuri-curi waktu untuk meneteskan air mata,

Harus diam-diam menangis di tengah malam..

Menahan semua dan mencoba berdiri setegar karang

Inikah proses menjadi dewasa?

Kau terus memintaku bersabar,

kau ingin aku lebih banyak mendengar,

kau berharap jiwa ini jadi pribadi kuat

Itukah yang disebut dewasa?

Ajari aku menjadi dewasa



(24-04-13)

Minggu, 06 Januari 2013

Biarkan Kita tak saling Menyapa



Sekilas…
Menatapmu
Tak ada jarak, hanya keheningan memenjara
Namun semua terasa aneh
Denting waktu tak terasa cepat
Juga tidak berhenti
Biasa saja
Namun semua terasa aneh
Dua hati yang saling mengenal
Terpisah oleh proses
Dipertemukan dalam kebetulan-kebetulan kecil
Namun semua terasa aneh



(06-01-13)

Senin, 31 Desember 2012

TAHUN BARU (Semoga Bukan Sekedar Tulisan)


Tahun baru????

Tiup terompet????

Pesta kembang api????



Tak terasa waktu terus berputar, dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan  tahun ke tahun. Dihitung-hitung seperti lama sekali, namun coba kita bertanya pada diri sendiri apa yang sudah kita lakukan tahun kemarin? Bulan kemarin? Minggu kemarin? Satu jam yang lalu? Satu menit bahkan satu detik yang lalu? Rasanya masih sedikit yang kita lakukan dan masih banyak yang belum kita lakukan, tanpa sadar banyak waktu yang kita buang percuma, banyak kesempatan yang kita lewatkan begitu saja, dan banyak nikmat yang kita rasakan tanpa syukur. Penyesalan memang selalu datang di akhir, tapi semua belum terlambat!!. Tahun baru tentunya harapan baru. Mari kita coba berbenah diri agar tidak menyesal di akhir ceritaJ.

Tidaklah penting berapa lama kita hidup! Satu hari, atau seratus tahun.
Hal yang benar-benar penting adalah APA yang telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat untuk diri kita masing-masing dan orang lain!
           
Tulisan ini memang sedikit serius duariussss malah. Disini kita akan sedikit membahas tentang bagaimana  mengukir cerita dalam kehidupan kita masing-masing. Tahun baru berarti kita akan menata ulang rencana dan belajar dari semua kejadian di 2012 disini kita punya 3K yaitu kemauan, keilmuan, dan kesempatan.
            Kemauan menjadi kata kunci yang paling penting dalam menentukan  hidup. Mau menjadi apa? Seperti apa? Dan di mana? Cobalah catat semuanya. Baik itu melalui diary  atau melalui selembar kertas sekali pun!. Jangan pernah katakan tidak punya kemauan. Hidup itu terlalu pendek untuk disia-siakan. Kemaun disini seperti nyawa kita dalam menjalani hidup, buat apa kita hidup jika tidak ada alasan untuk hidup yaitu kemauan. Kemauna ibarat harapan untuk selalu optimis menyambut hari esok, bisa juga disebut sebagai tujuan yang akan kita capai.
            Selanjutnya kita membahas mengenai keilmuan, segala sesuatu itu pasti ada ilmunya. Jika kita punya kemauan dan memiliki ilmunya, maka segala usaha akan tercapai dengan lebih baik. Itu sebabnya kita harus mau belajar dan belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Ingat, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, mengenal, memahami, dan mengamalkan sesuatu hal yang bermanfaat bagi kehidupan kita, begitu juga bagi orang lain.
            Kesempatan ini bisa datang dari mana saja, tergantung kecekatan kita dalam memanfaatkan setiap peluang yang ada. Kesempatan masih diberi umur panjang, waktu, kesehatan dan lain sebagainya sering tidak kita syukuri. Misalnya, waktu laksana air yang mengalir ke hilir yang tak pernah lagi kembali ke hulu. Kadang ia membangkitkan gairah dan semangat, kadang ia melenakan kita. Kadang kita tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Kita tahu, seringkali kesempatan itu hadir, tapi kita tidak mampu memanfaatkannya dengan benar, karena keilmuannya kurang, meski keinginan kita itu sebenarnya sudah besar. Jika ini terjadi, tidak jarang orang menyesal dan kadang menjadi berfikir bahwa nasib selalu tidak berpihak padanya. Kesempatan memang tidak akan datang untuk kedua kalinya, tapi kita bisa menciptakan kesempatan-kesempatan lainnya.
            Padukan antara kemauan, keilmuan dan kesempatan. Jika kemauan sudah ada, keilmuan sudah ada, maka kesempatan itu sebenarnya bisa dicari dan diupayakan!. Selamat menyambut tahun baru, semoga semuanya jauh lebih baik.

Kamis, 22 November 2012

puisi tak bertuan

untuk siapa ku tulis puisi-puisi ini
tersimpan lara dari setiap lembarnya
tertumpuk di sudut ruang
lapuk
tak pernah sampai padamu
sia-sia
tapi untuk siapa ku tulis puisi-puisi ini

lelah, sungguh
menatap lembaran-lembaran itu
dan terus menuliskan puisi di lembaran berikutnya
harus!
berserakan
tak karuan
kembali pada lembaran kosong dan terus menuliskan puisi
untuk siapa ku tulis puisi-puisi ini
tak pernah terbaca
ada kejujuran yang terungkap
ada kerinduan yang terperangkap
itulah puisiku, puisi tak bertuan
izinkan aku tetap menuliskan puisi ini untukmu
hei, untukmu?

kenangan kepada engkau

Siapapun namamu, seperti apa dirimu, sebaik apa sikapmu

Aku tak akan mengatakan siapa-siapa. Kecuali ingatan-ingatan yang berusaha kukubur

Dalam catatan kecil atau catatan panjang ada jutaan panah menancap ulu hatiku

Dan ribuan kilometer sungai tetap menyimpan kepedihan air mata sepanjang abad

Tangis bukan keharuan lagi bagiku, namun semacam ritual hujan membasahi bumi

Yang kedatangannya selalu menjadi teka-teki. Lembar kasih kita seperti langit

Tak ada sedikitpun goresan, kecuali warna biru yang membingkai penantian

Cinta tak terutarakan. Apakah asin seperti air laut? Keras seperti debur ombak?

Kecuali pemahamanku, kau adalah pemain layang-layang  yang berlomba dengan camar

Sementara menurutmu, kasihku sekedar fiksional yang dirajut menjadi gulungan ombak

Meski mungkin melebihi kekuatan tsunami. Aku tak akan mengatakan apa-apa

Siapapun namamu, seperti apa dirimu, sebaik apa sikapmu



puisi karya: NITA WIDIATI EFSA

Selasa, 13 November 2012

Golongan Darah B

FAKTA
Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif.


SIFAT
1. Orang yang bergolongan darah B ini cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya.
2. Mereka juga cenderung mempunyai terlalu banyak kegemaran dan hobby. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan.
3. Tapi biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang di kerjakannya.
4. Mereka cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Dan biasanya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.
5. Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan yang ada didalam diri mereka.
6. Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.

Otaknya cerdas, sifatnya periang dan rasa humornya tinggi. Demen banget ngobrol, bahkan kalau sudah ketemu orang yang dianggapnya cocok, betah ngobrol sampai berjam-jam lamanya.Orang yang memiliki golongan darah B termasuk orang yang mudah bergaul. Sahabatnya ada di mana-mana. Sikapnya selalu optimis dan jika sudah mengambil keputusan, sulit sekali diubah. Pendiriannya yang keras itulah yang menjadikannya sering meraih sukses. Apa yang dicita-citakannya selalu tercapai.Kelemahan dari orang yang memiliki golongan darah B adalah kurang hati-hati. Suka pamer dan suka dipuji. Bicaranya terkadang seperti nggak pakai kontrol. Nggak jarang sering membuat lawan bicaranya tersinggung.

KARAKTER ORANG BERGOLONGAN DARAH B
Orang dengan golongan darah B merupakan orang yang paling praktis di antara semua golongan darah yang ada. Mereka adalah spesialis di bidang yang digelutinya. Ketika mereka memulai sebuah proyek, mereka akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk memahami dan mencoba mengikuti semua petunjuk/arahan yang diperlukan untuk itu. Jika mengerjakan sesuatu, mereka selalu fokus kepada apa yang tengah dikerjakan. Mereka cenderung berpedoman pada tujuan dan mengejarnya sampai tuntas walau pun kelihatannya pekerjaan itu tidak mungkin dilakukan. Mereka cenderung kurang kooperatif. Mereka lebih suka mengikuti peraturan dan gagasan mereka sendiri. Orang dengan golongan darah B memberikan perhatian lebih kepada pikiran daripada perasaan mereka, dan karenanya, terkadang kelihatannya dingin dan serius.

CARA BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG BERGOLONGAN DARAH B
Ada karakter ada gaya. Orang bergolongan darah B memiliki karakter yang berbeda dengan mereka yang bergolongan darah A. Mereka lebih praktis, egois, kreatif, optimis dan bebas dalam berpikir. Mereka juga memiliki kecenderungan mengerjakan segala sesuatu secara individual. Oleh karena itu, di Jepang, untuk membentuk sebuah tim yang kuat sehingga motto yang digagas John C. Maxwell: teamwork makes the dream work benar-benar menjadi kenyataan, orang golongan darah B ini biasanya kurang dilibatkan.

Untuk lebih jelas, gaya komunikasi dengan orang bergolongan darah B berikut dapat dijadikan pedoman:
” Mulailah pembicaraan dengan runtun, jangan melompat-lompat karena mereka kurang menyukai hal-hal yang tidak teratur.
” Jangan memulai pembicaraan tanpa mengakhirinya.
” Gunakan data-data akurat, bukan rekaan.
” Jika mengajak kerjasama, pastikan bahwa mereka bersedia.
” Berbicaralah kepada otaknya bukan hatinya. Gunakan lebih banyak fakta rasional daripada sosial.
” Jangan menggunakan gaya bicara yang terburu-buru.

Orang dengan golongan darah B lebih suka mendengarkan uraian rinci dan runtun. Mereka suka ada awal dan akhir dari sebuah percakapan. Karena mereka sangat concern dengan apa yang telah dimulai untuk dapat diakhiri. Mereka tidak suka orang yang berbicara secara tidak jelas dan tanpa pertimbangan rasional karena mereka lebih menggunakan nalar rasio-nya daripada perasaannya.

PENYAKIT
Berikut ini Penyakit yang sering dijumpai pada Orang bergolongan Darah B
- Kerusakan sistem syaraf,
- susah tidur,
- sakit kepala atau migrain,
- penyakit hati,
- gangguan saluran empedu,
- gangguan saat haid,
- sakit tulang belakang,
- kegemukan
- serangan jantung

MAKANAN
Pemilik golongan darah B adalah kebalikan dari golongan darah A. Mereka diizinkan menyantap sumber hewani dengan sumber hewani dengan porsi lebih banyak. Namun karena memiliki darah B rentan terhadap penyakit autoimun dan serangan virus, mereka dianjurkan untuk mengkonsumsi sayuran hijau yang kaya magnesium. Daftar makanan yang diperbolehkan adalah semua produk susu kecuali, blue cheese dan es krim, telur ayam baik organik maupun ayam kampung.
CIRI KHAS:
-Sistem kekebalan tubuh kuat
-Stres bisa diatasi dengan melakukan pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas
-Dianjurkan melakukan latihan gerak seperti renang dan jalan kaki
-Dianjurkan juga untuk melakukan diet dengan berbagai variasi dari setaip golongan darah
-Tipe ini sangat cocok untuk asupan susu


JENIS OLAHRAGA:
Olahraga fisik sedang dengan unsur mental seperti, hiking, tenis dan berenang

Berikut adalah tips hal-hal berkenaan tentang diet golongan darah B:
Sangat bermanfaat : Kambing, kelinci, rusa, ikan salem, ikan sarden, susu sapi, roti, brokoli, ubi, wortel,
kembang kol, terong, dan teh hijau
Netral : Sapi, kerbau, hati, kalkun, ikan hiu, cumi-cumi, ikan tuna, mentega
Pantang : Bebek, angsa, ayam, belibis, babi, kuda, burung dara, keong, kepiting, katak, lobster, es krim, gandum, tomat, labu, jagung, alpukat, kelapa.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> 
 
(diambil dari sebuah blog dan ini kiriman dari seorang teman)