Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan.
Dalam hal kelebihan pun butuh pengelolaan yang baik, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. "Gnothi Se Authon."
Kenalilah dirimu sendiri.
......tanpa itu setinggi apa pun ilmumu kau tetap menjadi orang asing bagi dirimu sendiri.
......dengan itu selemah apa pun energimu kau akan sampai pada Rabbmu.
Berhati-hatilah pada dirimu sendiri dan jadilah teman bagi dirimu sendiri.
Sebuah halaman pribadi untuk bercerita, berpendapat, dan berbagi..... Semoga semua isi dalam blog ini sudah lulus sensor dengan maksud tak ingin merugikan siapa pun. . .terimakasih!
Selasa, 12 Januari 2016
Ibroh
Rabu, 27 Mei 2015
Batas Tak Bertepi
Apakah malam ini bintang jatuh ke pangkuanmu?
Ia menjelma sinar di matamu
Berbinar bagai senyummu
Cahaya di atas cahaya terpantul dari hatimu
Menyinari tiap bayang langkahmu
Lalu,
Menebar
Menyebar
Ikhlaslah jika semesta masih menahanmu. .di awal bukan di akhir
Karna ikhlas bukanlah pemanis sebuah penyesalan
Sabarlah saat kebenaran tersembunyi, seperti dalam yang tak pernah bertemu dasar
Berpuasalah dari pembenaran
Dan, istiqomahlah . .semoga Allah ridha :)
Mari terus bergerak ciptakan perubahan!
Senin, 13 April 2015
Sabtu, 11 April 2015
Aku Kembali Menulis
Aku kembali mengeluarkan pena
Sekian lama tersimpan
atau sengaja kutahan
Agar apa yang dituliskannya bukan sekedar
hati hampa suara
Aku kembali mengeluarkan pena
Di atas lembar putih penuh harapan
mengungkap rindu pada rembulan yang telah lama tak ku ajak bercengkrama
menjaring sepi di sela hembusan angin
menebar asa ke langit luas bertabur mimpi
Aku kembali mengeluarkan pena
Saat malam menjadi teman dan tempat persembunyian
Ya, sembunyi dari kemunafikan yang meraja
sembunyi dari sengatan sinar yang tekadang menyilaukan
membuat lupa diri
sembunyi dari nafsu angkara
sembunyi dari Aku
Aku kembali mengeluarkan pena
mengumpulkan seluruh huruf untuk menyapamu, lagi

Sekian lama tersimpan
atau sengaja kutahan
Agar apa yang dituliskannya bukan sekedar
hati hampa suara
Aku kembali mengeluarkan pena
Di atas lembar putih penuh harapan
mengungkap rindu pada rembulan yang telah lama tak ku ajak bercengkrama
menjaring sepi di sela hembusan angin
menebar asa ke langit luas bertabur mimpi
Aku kembali mengeluarkan pena
Saat malam menjadi teman dan tempat persembunyian
Ya, sembunyi dari kemunafikan yang meraja
sembunyi dari sengatan sinar yang tekadang menyilaukan
membuat lupa diri
sembunyi dari nafsu angkara
sembunyi dari Aku
Aku kembali mengeluarkan pena
mengumpulkan seluruh huruf untuk menyapamu, lagi

Semua akan indah pada jalan-Nya
Bukan mendendam
Aku hanya tak ingin menyakiti
Menjauh untuk menjaga, begitu katanya
Menjagamu, menjagaku, menjaga kita
Waktu merubah
Di batas lelah yang hampir menyerah
Di tepian harap yang tak kunjung terwujud
Di antara penerimaan dalam maaf dan kasih sayang
Aku belajar mengeja kata i-k-h-l-a-s
Waktu menjadi
Luka mengering berbekas tanpa rasa
Ingatan dalam berbagai macam wajah sudut kehidupan
Jalan takdir dari dua dunia
Merelakan adalah kemenangan
Aku berlalu....
Ini rindu yang menyiksa
Rabu, 20 Agustus 2014
Generasi tanpa Peradaban
SELAMATKAN INDONESIA PERBAIKI
PENDIDIKAN
Oleh:
Amalia Ulinnuha/Mahasiswi PBSI UNY
Dewasa
ini banyak sekali masalah yang menimpa Indonesia, semakin hari masalah-masalah
itu menjadi komplek dan saling terkait tanpa ujung yang jelas. Masalah
pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial seakan tidak mendukung terciptanya
Indonesia yang damai dan sejahtera. Melihat, membaca, dan mendengar berbagai
media mengabarkan situasi kehidupan kita semakin tak menentu. Orientasi sudah
berubah mengikuti perkembangan zaman yang katanya maju. Perubahan sosial
terjadi di masyarakat, masyarakat Indonesia yang dikenal ramah, guyub rukun,
saling tolong-menolong berubah menjadi egois dan apatis. Semuanya
berlomba-lomba demi kepentingan masing-masing untuk bertahan hidup.
Banyak
anak-anak memilih mengemis dan mengamen dibandingkan duduk di belakang meja
sekolahan. Alasannya klise, untuk makan dan bertahan hidup. Miris sekali
rasanya, anak-anak kecil yang seharusnya punya sejuta mimpi untuk diwujudkan,
cara berpikir mereka dirubah oleh kondisi hidup yang ada bahwa hidup itu butuh
uang, uang, dan uang. Kemiskinan, jalanan yang panas, perumahan kumuh,
pendidikan yang rendah, membuat para generasi ini terkepung oleh lingkungan
yang membesarkan mereka. Padahal lingkungan itu sangat berpengaruh dalam proses
sosialisasi. Ini baru contoh masalah Indonesia yang berhubungan dengan
pendidikan, ekonomi, dan sosial.
Pada
umumnya masyarakat Indonesia sekarang ini pasif terhadap kebijakan pemerintah
dan rasa pesimis sering berkembang terhadap masalah-masalah yang terjadi dalam
pemerintah. Dilihat dari banyaknya pemilih yang menjadi golongan putih dalam
setiap pemilihan yang ada merupakan sebuah bencana bagi peradaban Indonesia.
Kepeduliaan mereka terhadap situasi politik yang tentunya akan berdampak pada
hal lain dalam kehidupan nampaknya tidak ada. Mereka sudah tidak bisa melihat
dan merasakan perbedaan, yang mereka tahu adalah bagaimana melanjutkan hidup
mereka masing-masing. Siapa pun presidennya, gubernurnya, atau bupatinya tidak
akan berpengaruh pada rutinitas hidup yang mereka jalani. Mereka tetap harus
bangun sebelum subuh untuk menjadi kuli pasar atau mereka para pengusaha akan
tetap pergi ke luar negeri mengadakan pertemuan bisnis untuk terus meraup
keuntungan tanpa peduli terhadap keberlangsungan sebuah peradaban.
Setiap
pribadi memilih untuk tetap bertahan dalam zona aman atau rutinitas yang ada
dibandingkan mencoba mencari jawaban-jawaban dari masalah yang ada. Ya, untuk
memperjuangkan hidup mereka sendiri saja sudah sangat sulit apalagi harus memerdulikan
urusan pemerintah? Mental kita juga sudah rusak oleh pikiran-pikiran seperti
itu, seakan semua hal yang terjadi adalah formalitas dan siklus tanpa makna. Membangun
sebuah bangunan harus dari bawah, dari dasar tiang-tiang penegak pondasi. Begitu
pula menyelamatkan peradaban Indonesia. Kita harus memulai dari cara pandang
kita, cara berpikir kita, niat kita itulah yang menjadi dasar kita memutuskan
dan melakukan sesuatu.
Peradaban
adalah tingkat tinggi rendahnya budaya suatu masyarakat. Peradaban Indonesia
berarti bisa disebut juga budaya Indonesia. Sekarang ini peradaban Indonesia
sedang kehilangan arah diterjang ombak globalisasi dan modernisasi. Kompleksitas
masalah yang dihadapi terjadi secara sistemik. Indonesia tidak boleh kehilangan
kekhasannya sebagai bangsa yang ramah, guyub rukun, saling tolong menolong,
damai, kekeluargaan, dan kepekaan sosialnya tinggi.
Pendidikan
merupakan pilihan strategis untuk melakukan proses perubahan sosial menuju
masyarakat yang cerdas, beradab, adil, makmur, dan sejahtera. Pendidikan
berfungsi membentuk watak peradaban sebuah bangsa yang beradab dan bermartabat.
Pendidikan berpengaruh terhadap cara berpikir dan cara berperilaku seseorang. Pendidikan
adalah jalan untuk menyelamatkan peradaban Indonesia.
Sekeping Sepi
Jangan kau kutuki sepi. .di sanalah akan kau temui nurani
dengan kejujuran yang berbisik
jalan pikir terbuka menemui makna
Jangan kau kutuki sepi. .padanya kau teteskan air saat tiada yang mengusap
bercengkrama dengan diri yang terlupa
tengadah pada Rabb Yang Mahatau
Jangan kau kutuki sepi. . .dia sendiri kesepian
jalan pikir terbuka menemui makna
Jangan kau kutuki sepi. .padanya kau teteskan air saat tiada yang mengusap
bercengkrama dengan diri yang terlupa
tengadah pada Rabb Yang Mahatau
Jangan kau kutuki sepi. . .dia sendiri kesepian
Kita seringnya begitu tersiksa dengan sepi. Seakan-akan tidak ada orang yang perduli dan mau mengerti. Sepi menjadi sebuah ancaman keberadaan atas kita. Mengapa mesti takut dengan sepi?
Apa arti sepi untukmu?
Saat tak ada siapa pun di sisi
Saat malam gelap gulita
Saat pikiran kosong
Saat hati gundah gulana
Saat sendiri di tempat asing
Saat tidak ada yang bisa dilakukan
Semua benar, semua salah
Tanyakan hatimu, apa arti sepi?
Jika di tengah keramaian saja kau masih tersiksa olehnya.
Sepi adalah kawan bagi jiwa-jiwa suci yang mengharap ridloNya.
Jangan risau, jangan khawatir.....Allah selalu menjagamu. :)
Rabu, 06 Agustus 2014
Pilihan Hari Ini
Kadang kita kalut dalam kebimbangan di antara dua pilihan. Ya, semua tentu punya resiko. Dalam kemantapan kita memilih tentu kita syukuri jika sesuai dengan harapan, namun tak jarang rasa sesal hinggap jika akhirnya pilihan itu tak sejalan dengan harapan. Tapi pernahkah kita benar-benar sadari bahwa apa pun pilihan yang kita pilih, sebaik-baik penentu adalah Allah Azza Wa Jalla. Dia Mahatahu segalanya yang ghaib di depan nanti.
Kita tak pernah tau dampak dari pilihan kita satu, dua, atau tiga tahun yang lalu. Begitu juga dengan apa yang akan terjadi dengan pilihan kita hari ini. Jalani saja...semua sudah ada yang mengatur, serahkan padaNya sambil terus memohon "ihdinash shiratal mustaqim". :)
Kita tak pernah tau dampak dari pilihan kita satu, dua, atau tiga tahun yang lalu. Begitu juga dengan apa yang akan terjadi dengan pilihan kita hari ini. Jalani saja...semua sudah ada yang mengatur, serahkan padaNya sambil terus memohon "ihdinash shiratal mustaqim". :)
Kamis, 13 Februari 2014
Perihal: Ikhlas ^memaksa diri^
Terkadang ikhlas (kebaikan) itu perlu
dipaksakan agar menjadi kebiasaan hingga tersadar bahwa itu merupakan
kebutuhan.
Mendengar kata-kata terpaksa pikiran kita cenderung negativ, bukankah daging
babi yang haram pada kondisi tertentu karena ‘terpaksa’ bisa menjadi halal?
Tapi tentu analogi itu juga tidak bisa kita terapkan pada hal lain juga. Mari kita
membuka kamus dulu, kata pak·sa berarti
mengerjakan sesuatu yg diharuskan walaupun tidak mau dan kata ter·pak·sa
berarti berbuat di luar kemauan
sendiri karena terdesak oleh keadaan; mau tidak mau harus; tidak boleh tidak. Kembali
lagi pada awal kalimat di paragraf ini, niat baik itu harus diikuti dengan cara/jalan
yang baik pula. Ada orang yang beralasan tidak ingin melakukan sesuatu tentunya
dalam hal kebaikan karena tidak ikhlas, “aah gak usah daripada gak ikhlas”.
Atau sering berdalih ini itu menunda sebuah kebaikan dengan alasan tidak mau dipaksa
nanti jadinya tidak ikhlas. Iya, setuju bahwa ikhlas itu tidak bisa dipaksakan
harus tumbuh secara senyap disadari maupun tidak. Tapi jika kita menunggu hati
terbuka untuk ikhlas, sampai kapan? Bukankah Allah tidak akan merubah suatu
kaum sehingga kaum itu mau merubah dirinya sendiri, tentunya dengan usaha. Nah
kebaikan juga harus kita usahakan, setiap kebaikan yang kita usahakan juga
harus dengan keikhlasan kan? Berarti ikhlas juga harus diusahakan dengan
sepenuh hati, tidak bisa berdiam diri menunggu.
Nabi bersabda:
" إِنَّ اللهَ لاَ
يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ
مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً
وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ"
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas & dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah."
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas & dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah."
Ingatkah kita waktu kecil? Saat bermain
di luar rumah mengetahui Ayah akan pergi ke supermarket ingin rasanya ikut agar
bisa beli jajanan tapi aku tau tidak bisa langsung ikut begitu saja naik di
atas motor. Aku harus pulang terlebih dahulu mengambil jilbab. Saat itu aku
belum tau apa itu, untuk apa, yang aku tau kalau mau pergi-pergi jauh harus
memakai jilbab. Atau cerita saat kita berusaha menahan lapar dan haus saat
puasa hanya untuk mendapatkan baju baru di hari lebaran? Apa saat itu kita tau
perihal ikhlas? Yang kita tau itu sebuah paksaan yang ada konsekuensinya.
Pernah juga terlena bermain atau menonton televisi dan orang tua menyadari kita
belum sholat. Ayah pasti langsung mematikan televisi dan memarahiku untuk
segera sholat, tatapanku masih belum lepas dari televisi. Kemudian ibu akan
menambahi ceramah itu, akhirnya dengan berurai air mata aku mengambil air wudlu
dan sholat yang aku sendiri lupa rasanya hanya menggerakkan tubuhku secepat
kilat sambil masih tetap menangis. Ya itu kulakukan karena terpaksa dimarahi
orang tua, karena tidak ingin dimarahi lagi aku mulai terbiasa sholat lima
waktu, sadar diri jika belum sholat ada yang kurang meski juga entah bagaimana
kualitas sholatku sampai hari ini.
Pemahaman itu akan datang dengan
perlahan, kepingan-kepingan ilmu dan dari kebiasaan itu akhirnya aku tau apa
itu sholat, kenapa harus shalat, dan bagaimana jika tidak sholat. Semoga
akhirnya kita tau bahwa sholat adalah sebuah kebutuhan. Apa masih ditanya
ikhlas apa tidak? Aku pernah membaca sebuah artikel di blog bahwa ikhlas itu
seperti surat Al Ikhlas yang tidak ada satu pun kata ikhlas. Sampai pada saat
kita bisa berkata ”aku ikhlas” entah dilafalkan atau hanya di dalam hati
mungkin sebenarnya kita belum benar-benar ikhlas. Ikhlas itu berarti kita
melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh tanpa kita sadar apakah kita ikhlas
atau tidak. Di dalam hati pun kita tidak akan bertanya-tanya, ya dikerjakan
saja, di lakukan saja.
Kembali pada soal paksa-memaksa. Ya,
memaksa diri. Jika ikhlas itu tak pernah kita dapati dalam diri karena banyak
hal dan alasan, jika ikhlas yang harus diusahakan itu begitu sulit mengawali
langkah-langkah kebaikan. Maka, lupakan dulu tentang ikhlas! Jika itu di anggap
terlalu jahat dan merugikan orang lain. Aah…pasti kukatakan: “jika aku tidak
boleh memaksa orang lain, aku akan memaksa diriku sendiri untuk melakukan yang
lebih, lebih, dan lebih”. Aku percaya bahwa kita itu lebih dari yang kita
bayangkan, jadi jika ingin melakukan sesuatu tidak usah terlalu lama memikirkan
nanti bagaimana, ikhlas tidak ya, bisa tidak ya, mampu tidak ya, stop! Cukup
lakukan saja sebaik mungkin. Paksa dirimu dan lawan rasa malasmu untuk terus
berbuat baik. Memaksa diri terus menerus, dalam waktu yang relatif lama,
bukankah sama artinya kita sedang belajar membiasakan diri? Sesuatu yang
dilakukan karena kebiasaan, pada akhirnya nanti juga akan lebih ringan
dilakukan tanpa banyak pertimbangan memberatkan. Dan kalau sudah begini, ikhlas
itu ternyata hanya soal dimensi lain yang berada dalam hati kita.
“Biasakan yang baik jangan
membaikkan kebiasaan”
Langganan:
Postingan (Atom)


