Senin, 18 Januari 2016

Berilah Makna

Asing.. Terasing
maka, di manakah harus ku cari kebermaknaan?
Serupa angan tak berwujud
Harapku hampa berlalu
Keakuanku mengembara tak jua temui damai
Jejak tertinggal, luka tersisa
asa yang sempat putus
tertatih dalam langkah
aku tidak diam
aku tidak menyerah
aku sedang menujuMu

~kabar senjaku di suatu tempat

Selasa, 12 Januari 2016

Ibroh

Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan.
Dalam hal kelebihan pun butuh pengelolaan yang baik, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. "Gnothi Se Authon."
Kenalilah dirimu sendiri.
......tanpa itu setinggi apa pun ilmumu kau tetap menjadi orang asing bagi dirimu sendiri.
......dengan itu selemah apa pun energimu kau akan sampai pada Rabbmu.
Berhati-hatilah pada dirimu sendiri dan jadilah teman bagi dirimu sendiri.

Rabu, 27 Mei 2015

Batas Tak Bertepi

Apakah malam ini bintang jatuh ke pangkuanmu?
Ia menjelma sinar di matamu
Berbinar bagai senyummu
Cahaya di atas cahaya terpantul dari hatimu
Menyinari tiap bayang langkahmu
Lalu, 
Menebar
Menyebar
Ikhlaslah jika semesta masih menahanmu. .di awal bukan di akhir
Karna ikhlas bukanlah pemanis sebuah penyesalan
Sabarlah saat kebenaran tersembunyi, seperti dalam yang tak pernah bertemu dasar
Berpuasalah dari pembenaran
Dan, istiqomahlah . .semoga Allah ridha  :) 

Mari terus bergerak ciptakan perubahan! 

Sabtu, 11 April 2015

Aku Kembali Menulis

Aku kembali mengeluarkan pena
Sekian lama tersimpan
atau sengaja kutahan
Agar apa yang dituliskannya bukan sekedar
hati hampa suara

Aku kembali mengeluarkan pena
Di atas lembar putih penuh harapan
mengungkap rindu pada rembulan yang telah lama tak ku ajak bercengkrama
menjaring sepi di sela hembusan angin
menebar asa ke langit luas bertabur mimpi
Aku kembali mengeluarkan pena
Saat malam menjadi teman dan tempat persembunyian
Ya, sembunyi dari kemunafikan yang meraja
sembunyi dari sengatan sinar yang tekadang menyilaukan
membuat lupa diri
sembunyi dari nafsu angkara
sembunyi dari Aku

Aku kembali mengeluarkan pena
mengumpulkan seluruh huruf untuk menyapamu, lagi

Semua akan indah pada jalan-Nya


Bukan mendendam
Aku hanya tak ingin menyakiti 
Menjauh untuk menjaga, begitu katanya
Menjagamu, menjagaku, menjaga kita 
Waktu merubah 
Di batas lelah yang hampir menyerah
Di tepian harap yang tak kunjung terwujud
Di antara penerimaan dalam maaf dan kasih sayang 
Aku belajar mengeja kata i-k-h-l-a-s

Waktu menjadi 
Luka mengering berbekas tanpa rasa
Ingatan dalam berbagai macam wajah sudut kehidupan
Jalan takdir dari dua dunia
Merelakan adalah kemenangan
Aku berlalu.... 

Ini rindu yang menyiksa

Rabu, 20 Agustus 2014

Generasi tanpa Peradaban



SELAMATKAN INDONESIA PERBAIKI PENDIDIKAN
Oleh: Amalia Ulinnuha/Mahasiswi PBSI UNY

Dewasa ini banyak sekali masalah yang menimpa Indonesia, semakin hari masalah-masalah itu menjadi komplek dan saling terkait tanpa ujung yang jelas. Masalah pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial seakan tidak mendukung terciptanya Indonesia yang damai dan sejahtera. Melihat, membaca, dan mendengar berbagai media mengabarkan situasi kehidupan kita semakin tak menentu. Orientasi sudah berubah mengikuti perkembangan zaman yang katanya maju. Perubahan sosial terjadi di masyarakat, masyarakat Indonesia yang dikenal ramah, guyub rukun, saling tolong-menolong berubah menjadi egois dan apatis. Semuanya berlomba-lomba demi kepentingan masing-masing untuk bertahan hidup.
Banyak anak-anak memilih mengemis dan mengamen dibandingkan duduk di belakang meja sekolahan. Alasannya klise, untuk makan dan bertahan hidup. Miris sekali rasanya, anak-anak kecil yang seharusnya punya sejuta mimpi untuk diwujudkan, cara berpikir mereka dirubah oleh kondisi hidup yang ada bahwa hidup itu butuh uang, uang, dan uang. Kemiskinan, jalanan yang panas, perumahan kumuh, pendidikan yang rendah, membuat para generasi ini terkepung oleh lingkungan yang membesarkan mereka. Padahal lingkungan itu sangat berpengaruh dalam proses sosialisasi. Ini baru contoh masalah Indonesia yang berhubungan dengan pendidikan, ekonomi, dan sosial.
Pada umumnya masyarakat Indonesia sekarang ini pasif terhadap kebijakan pemerintah dan rasa pesimis sering berkembang terhadap masalah-masalah yang terjadi dalam pemerintah. Dilihat dari banyaknya pemilih yang menjadi golongan putih dalam setiap pemilihan yang ada merupakan sebuah bencana bagi peradaban Indonesia. Kepeduliaan mereka terhadap situasi politik yang tentunya akan berdampak pada hal lain dalam kehidupan nampaknya tidak ada. Mereka sudah tidak bisa melihat dan merasakan perbedaan, yang mereka tahu adalah bagaimana melanjutkan hidup mereka masing-masing. Siapa pun presidennya, gubernurnya, atau bupatinya tidak akan berpengaruh pada rutinitas hidup yang mereka jalani. Mereka tetap harus bangun sebelum subuh untuk menjadi kuli pasar atau mereka para pengusaha akan tetap pergi ke luar negeri mengadakan pertemuan bisnis untuk terus meraup keuntungan tanpa peduli terhadap keberlangsungan sebuah peradaban.
Setiap pribadi memilih untuk tetap bertahan dalam zona aman atau rutinitas yang ada dibandingkan mencoba mencari jawaban-jawaban dari masalah yang ada. Ya, untuk memperjuangkan hidup mereka sendiri saja sudah sangat sulit apalagi harus memerdulikan urusan pemerintah? Mental kita juga sudah rusak oleh pikiran-pikiran seperti itu, seakan semua hal yang terjadi adalah formalitas dan siklus tanpa makna. Membangun sebuah bangunan harus dari bawah, dari dasar tiang-tiang penegak pondasi. Begitu pula menyelamatkan peradaban Indonesia. Kita harus memulai dari cara pandang kita, cara berpikir kita, niat kita itulah yang menjadi dasar kita memutuskan dan melakukan sesuatu.
Peradaban adalah tingkat tinggi rendahnya budaya suatu masyarakat. Peradaban Indonesia berarti bisa disebut juga budaya Indonesia. Sekarang ini peradaban Indonesia sedang kehilangan arah diterjang ombak globalisasi dan modernisasi. Kompleksitas masalah yang dihadapi terjadi secara sistemik. Indonesia tidak boleh kehilangan kekhasannya sebagai bangsa yang ramah, guyub rukun, saling tolong menolong, damai, kekeluargaan, dan kepekaan sosialnya tinggi. 
Pendidikan merupakan pilihan strategis untuk melakukan proses perubahan sosial menuju masyarakat yang cerdas, beradab, adil, makmur, dan sejahtera. Pendidikan berfungsi membentuk watak peradaban sebuah bangsa yang beradab dan bermartabat. Pendidikan berpengaruh terhadap cara berpikir dan cara berperilaku seseorang. Pendidikan adalah jalan untuk menyelamatkan peradaban Indonesia.





Sekeping Sepi

Jangan kau kutuki sepi. .di sanalah akan kau temui nurani 
dengan kejujuran yang berbisik
jalan pikir terbuka menemui makna
Jangan kau kutuki sepi. .padanya kau teteskan air saat tiada yang mengusap
bercengkrama dengan diri yang terlupa
tengadah pada Rabb Yang Mahatau

Jangan kau kutuki sepi. . .dia sendiri kesepian

  
Kita seringnya begitu tersiksa dengan sepi. Seakan-akan tidak ada orang yang perduli dan mau mengerti. Sepi menjadi sebuah ancaman keberadaan atas kita. Mengapa mesti takut dengan sepi?
Apa arti sepi untukmu?
Saat tak ada siapa pun di sisi
Saat  malam gelap gulita
Saat pikiran kosong
Saat hati gundah gulana
Saat sendiri di tempat asing
Saat tidak ada yang bisa dilakukan
Semua benar, semua salah
Tanyakan hatimu, apa arti sepi?
Jika di tengah keramaian saja kau masih tersiksa olehnya.
Sepi adalah kawan bagi jiwa-jiwa suci yang mengharap ridloNya.
Jangan risau, jangan khawatir.....Allah selalu menjagamu. :)

Rabu, 06 Agustus 2014

Pilihan Hari Ini

Kadang kita kalut dalam kebimbangan di antara dua pilihan. Ya, semua tentu punya resiko. Dalam kemantapan kita memilih tentu kita syukuri jika sesuai dengan harapan, namun tak jarang rasa sesal hinggap jika akhirnya pilihan itu tak sejalan dengan harapan. Tapi pernahkah kita benar-benar sadari bahwa apa pun pilihan yang kita pilih, sebaik-baik penentu adalah Allah Azza Wa Jalla. Dia Mahatahu segalanya yang ghaib di depan nanti.
Kita tak pernah tau dampak dari pilihan kita satu, dua, atau tiga tahun yang lalu. Begitu juga dengan apa yang akan terjadi dengan pilihan kita hari ini. Jalani saja...semua sudah ada yang mengatur, serahkan padaNya sambil terus memohon "ihdinash shiratal mustaqim". :)


Kamis, 13 Februari 2014

Perihal: Ikhlas ^memaksa diri^



       Terkadang ikhlas (kebaikan) itu perlu dipaksakan agar menjadi kebiasaan hingga tersadar bahwa itu merupakan kebutuhan. Mendengar kata-kata terpaksa pikiran kita cenderung negativ, bukankah daging babi yang haram pada kondisi tertentu karena ‘terpaksa’ bisa menjadi halal? Tapi tentu analogi itu juga tidak bisa kita terapkan pada hal lain juga. Mari kita membuka kamus dulu, kata pak·sa berarti mengerjakan sesuatu yg diharuskan walaupun tidak mau dan kata ter·pak·sa berarti berbuat di luar kemauan sendiri karena terdesak oleh keadaan; mau tidak mau harus; tidak boleh tidak. Kembali lagi pada awal kalimat di paragraf ini,  niat baik itu harus diikuti dengan cara/jalan yang baik pula. Ada orang yang beralasan tidak ingin melakukan sesuatu tentunya dalam hal kebaikan karena tidak ikhlas, “aah gak usah daripada gak ikhlas”. Atau sering berdalih ini itu menunda sebuah kebaikan dengan alasan tidak mau dipaksa nanti jadinya tidak ikhlas. Iya, setuju bahwa ikhlas itu tidak bisa dipaksakan harus tumbuh secara senyap disadari maupun tidak. Tapi jika kita menunggu hati terbuka untuk ikhlas, sampai kapan? Bukankah Allah tidak akan merubah suatu kaum sehingga kaum itu mau merubah dirinya sendiri, tentunya dengan usaha. Nah kebaikan juga harus kita usahakan, setiap kebaikan yang kita usahakan juga harus dengan keikhlasan kan? Berarti ikhlas juga harus diusahakan dengan sepenuh hati, tidak bisa berdiam diri menunggu.
Nabi bersabda:
" Ø¥ِÙ†َّ اللهَ لاَ ÙŠَÙ‚ْبَÙ„ُ Ù…ِÙ†َ العَÙ…َÙ„ِ Ø¥ِلاَّ Ù…َا Ùƒَانَ Ù„َÙ‡ُ Ø®َالِصاً Ùˆَ ابْتُغِÙŠَ بِÙ‡ِ ÙˆَجْÙ‡ُÙ‡ُ"

"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas & dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah."
       Ingatkah kita waktu kecil? Saat bermain di luar rumah mengetahui Ayah akan pergi ke supermarket ingin rasanya ikut agar bisa beli jajanan tapi aku tau tidak bisa langsung ikut begitu saja naik di atas motor. Aku harus pulang terlebih dahulu mengambil jilbab. Saat itu aku belum tau apa itu, untuk apa, yang aku tau kalau mau pergi-pergi jauh harus memakai jilbab. Atau cerita saat kita berusaha menahan lapar dan haus saat puasa hanya untuk mendapatkan baju baru di hari lebaran? Apa saat itu kita tau perihal ikhlas? Yang kita tau itu sebuah paksaan yang ada konsekuensinya. Pernah juga terlena bermain atau menonton televisi dan orang tua menyadari kita belum sholat. Ayah pasti langsung mematikan televisi dan memarahiku untuk segera sholat, tatapanku masih belum lepas dari televisi. Kemudian ibu akan menambahi ceramah itu, akhirnya dengan berurai air mata aku mengambil air wudlu dan sholat yang aku sendiri lupa rasanya hanya menggerakkan tubuhku secepat kilat sambil masih tetap menangis. Ya itu kulakukan karena terpaksa dimarahi orang tua, karena tidak ingin dimarahi lagi aku mulai terbiasa sholat lima waktu, sadar diri jika belum sholat ada yang kurang meski juga entah bagaimana kualitas sholatku sampai hari ini. 
       Pemahaman itu akan datang dengan perlahan, kepingan-kepingan ilmu dan dari kebiasaan itu akhirnya aku tau apa itu sholat, kenapa harus shalat, dan bagaimana jika tidak sholat. Semoga akhirnya kita tau bahwa sholat adalah sebuah kebutuhan. Apa masih ditanya ikhlas apa tidak? Aku pernah membaca sebuah artikel di blog bahwa ikhlas itu seperti surat Al Ikhlas yang tidak ada satu pun kata ikhlas. Sampai pada saat kita bisa berkata ”aku ikhlas” entah dilafalkan atau hanya di dalam hati mungkin sebenarnya kita belum benar-benar ikhlas. Ikhlas itu berarti kita melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh tanpa kita sadar apakah kita ikhlas atau tidak. Di dalam hati pun kita tidak akan bertanya-tanya, ya dikerjakan saja, di lakukan saja.
       Kembali pada soal paksa-memaksa. Ya, memaksa diri. Jika ikhlas itu tak pernah kita dapati dalam diri karena banyak hal dan alasan, jika ikhlas yang harus diusahakan itu begitu sulit mengawali langkah-langkah kebaikan. Maka, lupakan dulu tentang ikhlas! Jika itu di anggap terlalu jahat dan merugikan orang lain. Aah…pasti kukatakan: “jika aku tidak boleh memaksa orang lain, aku akan memaksa diriku sendiri untuk melakukan yang lebih, lebih, dan lebih”. Aku percaya bahwa kita itu lebih dari yang kita bayangkan, jadi jika ingin melakukan sesuatu tidak usah terlalu lama memikirkan nanti bagaimana, ikhlas tidak ya, bisa tidak ya, mampu tidak ya, stop! Cukup lakukan saja sebaik mungkin. Paksa dirimu dan lawan rasa malasmu untuk terus berbuat baik. Memaksa diri terus menerus, dalam waktu yang relatif lama, bukankah sama artinya kita sedang belajar membiasakan diri? Sesuatu yang dilakukan karena kebiasaan, pada akhirnya nanti juga akan lebih ringan dilakukan tanpa banyak pertimbangan memberatkan. Dan kalau sudah begini, ikhlas itu ternyata hanya soal dimensi lain yang berada dalam hati kita.
“Biasakan yang baik jangan membaikkan kebiasaan

Minggu, 09 Februari 2014

Teruslah Bergerak!

       Kehidupan ini terus berlalu tanpa kita sadari. Keraguan-keraguan silih berganti menghampiri, keputusan harus segera dibuat. Dalam Quran surat Al Insyirah ayat 7 Allah berfirman, ”Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. Ya, hidup harus terus bergerak dari satu waktu ke waktu yang lain, dari satu masalah ke masalah yang lain, dari satu kejadian ke kejadian berikutnya. Itulah ritme kehidupan yang selalu berputar maka sesudah selesai menunaikan satu tugas siapkan diri untuk menunaikan tugas lainnya. Tapi seringnya kita terpaku pada satu titik, satu tempat, atau satu hal membuat hidup terkungkung pada rutinitas. Jika selama ini rutinitas yang kita jalani sudah baik dan benar tentu harus kita syukuri dan dijaga. Tapi apakah tidak ingin melakukan hal lain? Jika rutinitas selama ini sudah bisa memberikan manfaat dan memecahkan masalah untuk lingkungan sekitar, apakah tidak ingin menjamah tempat lain dan memberikan manfaat lebih luas? Apalagi jika rutinitas yang dijalani selama ini belum tentu benar, apakah tidak ingin memperbaikinya dengan terus bergerak dan berubah? Tulisan ini hanya bermaksud mengajak agar kita mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Terlepas dari rutinitas dan rasa puas dari hasil yang telah didapat.
       Bergerak, bergerak, dan berdosa itu lebih mulia daripada diam berpahala. Kalimat di samping mungkin terasa begitu memudahkan perihal dosa namun sebenarnya syarat akan makna. Bergerak, terus bergerak mencoba segala kemungkinan meski seringnya terjatuh dan salah membuat kita tahu bahwa nantinya hal itu tak boleh diulang lagi. Terus bergerak juga bagian dari memanfaatkan waktu dan mensyukuri kesempatan hidup yang masih diberikan oleh-Nya. Ada pepatah mengatakan diam itu emas, namun dalam hal ini mari kita coret pepatah itu. Tanyakan pada diri sendiri apakah yang telah kita lakukan untuk diri sendiri, orang-orang sekitar, dan lingkungan yang kita tinggali. Mari kita periksa keadaan dan membaca tanda-tanda, apakah ada yang bisa kita lakukan? Atau adakah yang harusnya kita lakukan dan belum kita lakukan?

 “Kemaksiatan yang memberi bekas rasa hina dan hancur dihadapan-Nya karena kemaksiatan, lebih baik daripada ketaatan yang meninggalkan rasa bangga dan sombong.”(Ibnu Athaillah as-Sakandari)

       Jika sebuah keburukan terjadi  menjadikan kita lebih baik, berarti itulah sebuah kebaikan sesungguhnya. Manusia tempatnya lupa dan salah, begitukan katanya? Untuk itu jangan takut mencoba dan salah. Kita akan terus belajar selama hayat masih dikandung badan. Terjatuh? Itu isyarat bahwa kita akan bangkit berdiri lebih kuat. Bukankah Allah azza wa jalla akan selalu memberi pertolongan. Hidup itu bagai ingin membangun rumah satu per satu menumpuk bata, butuh proses. Salah dan terjatuh adalah bagian dari proses tersebut. jangan takut mencoba, jangan takut berubah, dan jangan takut menjadi pembeda. 

“Hidup hanyalah kesempatan membuat pilihan, segalanya digulirkan dan digilirkan. Apapun yang kita pilih, ujungnya adalah tanggung jawab. Memikul tanggung jawab apapun pasti melelahkan. Tidak ada hidup yang tidak melelahkan. Yang membedakan hanya bagaimana memahami setiap konsekuensi pilihan dengan sikap terbaik.”

Minggu, 19 Januari 2014

jika aku, maka.......

malam ini aku bertanya pada diri sendiri,
apa yang sedang kau lakukan?
apa yang sedang kau usahakan?
apa yang sedang kau perjuangkan?
hanya rintihan menahan air mata
hanya sedikit hentakan untuk tetap berdiri
hanya.....tatapan tajam meneguhkan hati

jika aku berhenti maka......
jika aku menyerah maka.....
jika aku mengeluh maka.....
ahh entahlah
ahh sudahlah
begitu yang kau mau?

sayap-sayapku.....apa kau lelah terbang bersamaku?
sungguh aku tidak ingin memaksa, tidak juga kau

jika aku pergi, maka?

Kamis, 26 Desember 2013

Pandang Pertama

sinar mata yang tak bisa aku lupa
isyaratmu bagai purnama
tak setiap malam ada, tapi pasti
wajah dingin miskin ekspresi
senyum tipis, gaya kaku


lebur..
saat kau menggelengkan kepala gemas padaku
berlalu menyimpan senyummu sendiri

lebur...
saat kau jengkel dan meninggalkanku
aku masih saja terpaku
menghitung langkahmu
dan, ya aku tau kau akan kembali menjemputku

lebur....
saat aku menangis karena mengecewakanmu, membuatmu marah
suara lembut itu mengusap air mataku

lebur.....
saat aku tidak sabar dalam banyak hal
memaksa diri, memaksa keadaan
tatapanmu menenangkanku
seraya berkata: jangan menyerah!


24 Nov '13

Senin, 18 November 2013

Membaca Kembali Emansipasi

       Mendengar kata gender dewasa ini masih saja terjadi pro dan kontra. Maraknya gerakan emansipasi dinilai sebagai perlawanan kaum wanita terhadap suatu tatanan yang sudah ada selama ini yaitu budaya. Istilah gender, emansipasi, dan feminisme muncul dari dunia Barat. Setelah Revolusi Amerika pada 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792 berkembang pemikiran bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dalam realitas sosialnya. Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan. Oleh karena itulah, kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki dihadapan hukum.
       Kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada 1837. Pada awalnya gerakan ditujukan untuk mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Secara umum kaum feminis merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomorduakan oleh kaum maskulin dalam bidang sosial, pekerjaan, pendidikan dan politik khususnya –terutama dalam masyarakat yang bersifat patriaki-. Dalam masyarakat tradisional yang berorientasi agraris, kaum laki-laki cenderung ditempatkan di depan, di luar rumah, sementara perempuan di dalam rumah.
       Jauh sebelum dunia Barat menggembor-gemborkan itu semua Islam sudah terlebih dahulu menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum perempuan. Kita semua, baik itu wanita maupun laki-laki, bukan hanya harus mengetahui, melainkan juga harus memahami bahwa wanita mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama seperti halnya laki-laki. Perintah dan larangan Allah SWT disampaikan tidak hanya kepada laki-laki, tetapi juga kepada wanita. Begitu pula Allah memberikan pahala atau siksaan. Mari membaca kembali kamus hidup yaitu Al Quran, di sana begitu jelas rinci terpaparkan bagaimana kita harus menghargai perbedaan, bergaul sesama manusia maupun hubungan antara perempuan dan laki-laki. jika telinga kita panas mendengar istilah Barat tentang gender maka mari kita kembalikan pada Al Quran, tapi sebagai perempuan saya juga akan menggugat jika hanya di pandang sebelah mata dan ditempeli stereotip-stereotip yang berkembang di masyarakat. Perempuan dan laki-laki memang harus hidup berdampingan karena mereka saling membutuhkan dan saling melengkapi...marilah berbagi peran dengan baik. Semuanya bisa dikomunikasikan sesuai kesepakatan. 
“Jika kamu mendidik seorang laki-laki, sesungguhnya engkau hanya mendidik satu dari jutaan penduduk bumi. Tapi jika kamu mendidik seorang perempuan, maka sesungguhnya engkau sedang mendidik sebuah bangsa” (mantan Presiden Tanzania).



Rabu, 06 November 2013

Cemburuku

DIA SEORANG PEREMPUAN, SAMA SEPERTIKU

Dari bahasa tubuhnya, aku tau
Dari sorot matanya, aku tau
Ada cinta

Oh..rasanya aku ingin berlari dari semua ini
Ketakutan macam apa yang kuhadapi
Mana mungkin aku takut kehilangan sesuatu yang belum pernah kumiliki
Ketakutan macam apa yang kuhadapi
Mana mungkin aku takut terabaikan oleh seseorang yang sudah terbiasa memalingkan muka dariku Ketakutan macam apa yang kuhadapi

Di pihak mana aku harus berdiri?
Hati siapa yang harus ku jaga?
Karna aku tau ada cinta
Karna aku tau ada luka
Karna aku tau ada dia

 _061113_

Selasa, 30 Juli 2013

KACAMATA (aku bisa nulis cerpen!)


“Kamu tu jadi anak kok nggak tau diuntung sih? Masih banyak orang yang hidupnya lebih susah.” Kalimat itulah yang selalu kuingat dari mulut seorang wanita yang melahirkanku. “Kapan kamu sadar sih nak?”, katanya lagi, aku hanya diam meski berontak dalam dada. Beliau memang lebih tua tapi bukan berarti selalu benar kan? Aku anak pertama dari dua bersaudara yang terlahir dalam keluarga yang takkan mau aku tukarkan. Hmmm anak pertama, ada untungnya, ada ruginya juga sih. Ya untungnya aku sudah lebih lama menghirup nafas di dunia daripada adikku.
Pagi saat di sekolah. “Hallo Ocha...”, sapa beberapa temanku saat aku datang. Aku memang senang berteman dengan siapa saja dan hampir tak punya musuh, tapi aku merasa hampa dan sepi meski aku punya beberapa teman dekat. “Kamu duduk sama siapa Vik?”, tanyaku pada Vika. “Aduh...aku duduk sama tasya Za”, jawab Vika. Ya, namaku Feroza dan biasa dipanggil Ocha atau Za. “Ni sama Ima aja Za”, pinta seorang teman bernama Fina. Kita berenam memang sudah dekat semenjak menginjakkan kaki di SMP ini, kemana-mana selalu bersama, tapi kadang aku bertanya apakah mereka ingat akan keberadaanku saat aku tidak sedang bersama mereka. Diantara kelima temanku Vika, Tasya, Ima, Fina, dan Amara, aku memang yang paling ketinggalan masalah wawasan dunia luar, teknologi, lagu-lagu, berita seleb, dan tentunya urusan-urusan cewek. Maklumlah, anak pertama, tidak seperti mereka semua punya kakak yang bisa jadi tempat bertanya tentang pengalamannya atau mungkin tanpa bertanya pun mereka bisa melihat langsung dan mengikuti perkembangan yang terjadi lewat kakak-kakak mereka. (Kerugian pertama jadi anak pertama, apa-apa jadi pengalaman pertama buat orang tua)
“Za, liat ini lucu kan...bagus nih!!,” kata ibuku. Biasa sesama perempuan kalau udah ngomongin baju dan pernak-perniknya dah pasti langsung nyambung. “Lucu apanya sih bu.....nggak mau ah terlalu nyentrik ntar dikira artis kesasar, modelnya jangan aneh-aneh gitu, yang biasa aja,” kataku. “Ya terserah kamu, tapi jangan nyesel lho,” tegas beliau, aku akuin selera beliau memang esklusif dan nggak ketinggalan zaman lah. “Andai Ibu masih muda...wahh keren ni,” gerutunya. Oh Ibuku aku sangat menyanyangimu, bangga dan kagum padamu tapi mengapa ada hal yang tak bisa terselesaikan antara kita, tatapku penuh arti. Begitulah kiranya perdebatan yang sering terjadi jika sedang belanja bersama. Hubungan dengan ibuku sih baik-baik saja, apalagi masalah perempuan ke salon maupun urusan belanja, kita selalu kompak, meski ada sedikit perdebatan seperti tadi. (Keuntungan pertama jadi anak perempuan satu-satunya)
Malam adalah temanku karna dalam kesunyian itulah aku bisa berkawan dengan diriku sendiri, menangis dan mengiba pada Rabb-ku. Ya Allah...tolong aku, aku tak tau apa yang aku inginkan. Aku merasa sendiri meski hampir tak punya musuh, semua orang tidak bisa mengertiku, bahkan terkadang aku sendiri tak mengerti kenapa aku seperti ini. Aku tau orang tuaku juga sayang padaku, mereka selalu mendoakanku dan bekerja keras untukku, tapi kadang aku seperti anak terlantar yang tidak diperhatikan. Aku sering membantah perkataan keduanya, bukan karena lancang dan tak tau sopan santun, itu karena aku juga yakin aku benar dengan pikiranku.
“Kamu tu, dinasehatin malah jawab terus!!”, ucap Ayahku. Berontakku dalam dada, aku hanya ingin didengarkan, pernah nggak sih mereka melihat dari kacamataku? Tak adil bagiku, namun jika ingin membantah lagi, terlalu kerdil aku teringat semua jasa kedua orang tuaku. Apakah begitu menyusahkannya diriku sebagai anak? Aku selalu mengerjakan apa yang bisa kukerjakan sendiri, tidak menunggu orang lain, karena itu yang diajarkan keduanya padaku. Tataplah aku....Ayah......Ibu...aku begitu menyanyangimu, maafkan aku yang selalu menyakiti hatimu.
****
“Kamu sakit Za??”, tanya Vika di kelas. “Enggak kok, emang kenapa?”, jawabku. “Beda aja, hari ini kamu masih murah senyum dan kalem-kalem aja, tapi....ada yang hilang.”, kata Vika lagi. “Apaan tu yang hilang...ya ntar kita buat laporan ke polisi tentang kehilangan,” kataku sekenanya. “Keliatan dari raut wajahmu Za, kayak kurang semangat.”, Vika belum mau berhenti mengintrograsiku dan aku hanya membalasnya dengan senyuman sambil lalu. Terlalu cuek kah diriku atau terlalu gengsi untuk mengakui jika aku lemah, tapi ini bukan aku. Feroza yang dikenal adalah Feroza yang selalu ceria, penuh semangat, cerewet, sedikit lugu, dan sok berani. Aarrrrghhhh aku juga tak tau apa yang sedang terjadi.
“Feroza...,” Guru geografi memanggil namaku untuk menyerahkan hasil ulanganku. Sebagian tema-teman berbisik sembari menatapku, menduga-duga nilai ulanganku. “Waduh....angkat tangan aku,” kataku menolak dugaan mereka sambil meninggalkan bangku. “Berapa Cha??” tanya Tasya dan Amara hampir bersamaan. Aku menggeleng dan berkata,”aku nggak belajar!!”. “ Kalau aku sih alamat remidi..”, celoteh Vika. Saat kubuka lembar ulangan itu, 76 nilaiku, teman-teman juga mengelilingiku. “Wahh kamu nggak belajar ja dapat 76, apalagi kalau belajar, pasti dapat dua kali lipatnya,” sindir Vika. Target pertama ‘asal nggak remidi’ terselesaikan, meski banyak teman yang tidak percaya aku tidak belajar, entahlah hampa dan aku hanya ingin mengalir saja menjalani hidup.
Yaa Rabb tak bermaksud aku untuk selalu mengeluh atau bahkan mendekte-Mu. Aku hanya seorang anak yang sedang dalam proses mencari jati diri atau seorang anak yang ingin diperlakukan dewasa tapi belum siap untuk itu.
Baru saja sampai dirumah, banyak hal yang terjadi diluar sana. Menghela nafas. “Kamu tu udah gedhe...jaga sikap, jaga mulut,” nasihat ibuku. “Katanya mau diperlakukan sebagai anak gedhe, ibu sudah ijinin kamu main malem asal jelas kemana, mau ngapain, dan sama siapa, tapi inget tugasmu cuci piring. Eh pulang main kok langsung tidur,” tambahnya lagi. Antara capek dan ngrasa bersalah, aku pun pergi ke belakang untuk mencuci piring. Tapi masih saja kudengar ceramah dari penasehat umum rumah ini, Ibuku. “Kalau maunya main terus itu anak kecil, kalau ngakunya sudah besar itu harusnya masak, nyuci baju, nyetrika”........ya intinya bekerja, hidup yang realistis, mesti berusaha untuk hari ini dan esok....bla...bla...terlalu panjang ceramah beliau. Dan aku terlalu merasa lelah hari ini.
Selesai mencuci piring aku pun langsung masuk kamar, merebahkan badan, pikiranku masih melayang ke sana ke mari. Entah. Aku benar-benar tak tau dengan diriku, apa yang kuinginkan, apa yang kupikirkan, semuanya terasa salah dan menyesakkan dada. Sungguh, aku lelah bermain-main dengan pertanyaan yang tak bisa kujawab. Akhirnya aku pun terlelap dengan sendirinya.
****
Pagi saat matahari belum memberikan kehangatannya, kurasakan tubuhku menggigil, kedinginan. Ayah membangunkan satu per satu anggota keluarga rumah ini untuk sholat subuh berjama’ah. Setelah sholat subuh aku langsung kembali ke tempat tidur mencari kehangatan dibalik selimut. Ayah, Ibu dan adik laki-lakiku sudah melakukan berbagai aktivitas, Ibu memanggilku untuk membantunya di dapur atau mandi terlebih dahulu dan siap-siap ke sekolah. Aku hanya diam, pusing sekali rasanya jika menggerakkan badan. Ibu terus memanggilku, “Cha....bangun ini sudah jam 6, ayo bangun!!!”. Ingin kujawab panggilan Ibu, namun tertahan, rasanya lelah sekali. Karena tak mendapat jawabanku, Ibu menghampiriku ke kamar, melihatku masih terbaring berselimut. “Aku nggak enak badan,” jawabku lirih. “O..yasudah istirahat saja”, kata Ibu meninggalkanku karena masih banyak yang harus beliau kerjakan. Kedua orang tuaku bekerja, aku dan adikku sama-sama sekolah, dan kami tidak punya pembantu, jadi urusan rumah harus selesai sebelum jam 7 pagi. Setelah semuanya siap Ayah dan Ibu pergi bekerja, adikku pergi ke sekolah, dan aku? Masih terbaring di tempat tidur, Ibu tadi sempat menawariku sarapan tapi nanti saja tolakku. Ah semua sibuk dengan urusannya masing-masing, teman-temanku juga pasti tidak ingat jika hari ini aku tidak ada di antara mereka, mereka tidak ingat aku. Prasangkaku terus berteriak, sedih aku. Sambil merasakan tetesan-tetesan yang mengalir dari mata aku pun kembali terlelap.
Jam 9 ternyata Ibu kembali ke rumah, melihat keadaanku, memberiku obat. “Maaf ya nak, meninggalkanmu dalam keadaan begini, jangan lupa makan, Ibu ada rapat harus kembali ke kantor,” katanya lembut penuh kasih. Kemudian beliau kembali meninggalkanku sendirian di rumah. Aku hanya terdiam dan kembali basah karena air mata terus mengalir. Ternyata dugaanku salah, Ibu rela kembali ke rumah melihat keadaanku, meski di tengah kesibukannya. Sebelum pulang dari mengajar di sekolah Ayah menelponku, menanyakan aku ingin makan apa Ayah akan mencarikannya. Kali ini, aku salah lagi. Meski Ayahku sering hanya diam saja, tapi beliau juga memikirkanku, mengingatku, tentu saja di tengah-tengah aktivitasnya.
Terkadang pikiran kitalah yang menyebabkan semuanya jadi rumit, prasangka-prasangka yang belum tentu benar, atau kacamata kita yang terkadang membuat yang jelas jadi buram. Aku tak peduli meski teman-temanku atau siapa pun tak peduli padaku, karena aku punya orang-orang yang selalu peduli dan mengertiku, ya keluargaku. Kuncinya ada pada cara kita berpikir dan memandang hidup ini. Sungguh aku dulu sangat sombong, hanya mengeluh dan tak mau bersyukur. Jika setiap yang terjadi di syukuri dan dijalani dengan ikhlas tentu saja semua jadi ringan. Malam ini senyum kembali merekah di rumah ini, hangat berkumpul bersama keluarga yang sangat aku sayangi dan menyanyangiku, mengakhiri perang dingin yang kemarin sempat menegang, uppss bukan perang dingin. Semua salahku, karena prasangkaku dan pikiranku yang menutupi mata hati. Ya gejolak remaja yang merasa tidak dimengerti oleh siapapun. Tidak mau lagi dianggap sebagai anak kecil, tapi ternyata dunia tak seindah yang kubayangkan saat aku masih kecil. “Tua itu pasti Cha, tapi dewasa itu pilihan nak, jangan terburu-buru, ikuti saja semua prosesnya, dan bermetamorfosalah menjadi kupu-kupu, gadis kecilku,” ucap ibuku sedikit menggoda. “Ahh ibu...,”kataku sambil memeluknya.
Masing-masing orangtua punya cara yang berbeda untuk melindungi anaknya, punya tutur yang beda untuk menasihati putrinya, memiliki sikap yang tidak sama dalam mendampingi putrinya.
(My Mom)
Tiba-tiba handphone-ku bergetar, ada sms. Ya sms dari teman-temanku, menanyakan aku sakit apa, apakah aku baik-baik saja, mereka juga menceritakan apa yang terjadi di sekolah hari ini, kelucuan-kelucuan. Ahh mereka juga ternyata perhatian padaku. Aku punya teman-teman yang selalu bisa menghadirkan tawa dan lupa tak kusyukuri. Hari ini, semua yang kupikirkan selama ini salah. Salah besar. Maafkan aku Ya Allah. Ingin bahagia menjalani hidup? Syukuri hidupmu, carilah celah dalam memandang masalah agar bisa selalu disyukuri, selalu ada alasan untuk bersyukur.

Analisis Cerpen


Orang-orang Batu di Sekeliling Bebatuan
Antara Fiksi dan Realita
oleh: Amalia Ulinnuha

Sastra dapat diartikan sebagai ungkapan pribadi, pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan dalam suatu bentuk gambaran konkret dengan alat-alat bahasa. Wellek dan Warren (1993, via Wiyatmi 2008: 14) telah mencoba mengemukakan beberapa definisi sastra, yang sebenarnya semua definisi yang ditawarkan adalah dalam rangka mencari definisi yang paling tepat. Pertama, sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Kedua, sastra dibatasi hanya pada “mahakarya” (great books), yaitu buku-buku yang dianggap menonjol karena bentuk dan ekspresi sastranya. Ketiga, sastra diterapkan pada seni sastra, yaitu dipandang sebagai karya imajinatif. Menurut Wiyatmi (2008: 28) dalam dunia cipta sastra dikenal jenis puisi, drama, dan naratif (meliputi novel atau roman dan cerita pendek, serta novelet).
Cerita pendek termasuk pada teks naratif karena yang dimaksud dengan teks-teks naratif ialah semua teks yang tidak bersifat dialog dan yang isinya merupakan suatu kisah sejarah, sebuah deretan peristiwa. Bersamaan dengan kisah dan deretan peristiwa itu hadir cerita.
Karya sastra dapat dianalisis menggunakan berbagai pendekatan, salah satunya adalah pendekatan mimetik. Pendekatan mimetik yang mengkaji karya sastra berupaya memahami hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Kata realitas di sini bisa berarti keadaan sosial, budaya, sejarah, pendidikan, ekonomi, hukum, agama, maupun politik. Pendekatan mimetik ini hampir serupa dengan pendekatan sosiologi sastra. Pada pendekatan sosiologi sastra fokus analisis memang pada realitas social dan aspek sosial kemasyarakatan.
Sebuah buku dengan judul Perempuan Tanpa Lubang yang di dalamnya terdapat empat belas cerita pendek karya Hasta Indriyana membuat terpaku sejenak dan bertanya-tanya apakah yang dimaksud si penulis? Ada salah satu cerpen yang dari judulnya saja membuat pembaca bertanya dan menjadi penasaran. Pada cerpen orang-orang batu karya Hasta Indriyana ini dikisahkan ada dua muda-mudi yang menjalin asmara, Siti dan Robin. Kelas sosial ekonomi mereka berbeda Siti adalah tukang buruh cuci sedangkan Robin adalah anak dari majikannya namun bukan hanya status sosial yang memisahkan cinta mereka. Di perkampungan tempat Siti tinggal akan terjadi penggusuran, Robin gencar membantu warga untuk melakukan penolakan. Beberapa waktu kemudian Robin menghilang tanpa jejak, penggusuran tak terelakkan. Siti berdiri menyaksikan kampungnya diratakan dengan tanah, dengan matanya sendiri dia melihat ayah Robin bagian dari orang-orang dibalik penggusuran. Tersiar kabar Robin diculik oleh para konglomerat yang tidak rela rencananya mendirikan perumahan mewah dan lapangan golf terhalangi. Dalam penantian itu ternyata Siti mengandung anak dari Robin.
 Latar tempat, waktu, dan suasana memang tidak diuraikan secara detail karena dalam cerpen memang harus ada pemadatan. Namun dapat ditangkap bahwa realita yang ingin digambarkan adalah sebuah perkampungan kumuh di tengah kota metropolitan beserta seluruh nyanyian ironinya. Ya, sungguh ironi-ironi potret zaman millennium ini coba dilukiskan Hasta dalam cerpen orang-orang Batu. Bahasa yang digunakan penuh dengan metafora namun bias mudah dipahami.
Kisah klasik yang ada pada perkampungan kumuh, miskin, dan sempit adalah tentang penggusuran. Orang-orang miskin seslalu kalah dengan ambisi para konglomerat yang berfikir bagaimana bias punya daya jual dan menghasilkan uang. Perkampungan Tukangan tempat tinggal Siti akan digusur, dijadikan lapangan golf dan perumahan mewah. Masyarakat dijanjikan ganti rugi dan lingkungan hidup yang lebih baik. Robin menolak keras agenda ini dan berada di baris terdepan untuk melawan. Perkampungan kumuh di tengah kota metropolitan memang sering diperbincangkan, tapi bagaimanapun disitulah mereka tinggal. Hidup mesti seimbang bukan? Kenyataan yang ada hidup penuh dengan kompetisi secara kapitalis. Lihat saja di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Batam. Pinggir-pinggir jalanan dihiasi dengan gedung bertingkat, taman-taman hanya terlihat dipojok di atas tanah berkeramik. Sudah jarang dijumpai tanah lapang, lembah yang hijau, pepohonan yang teduh, dan rumput yang hijau.
“Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari perkampungan ini, Siti. Tentang anak-anak kecil yang berlarian di lorong-lorong rumah, tikus-tikus dan kecoa yang sesekali menggoda kita, tentang Yu Karni dan Kang Parto yang sedih karena dua anaknya meninggal oleh demam berdarah, atau kamu yang gemar rebut dengan ibumu sendiri.”
“Mas Robin tidak suka Siti ya? Marah?”
“Bukan. Bukan itu maksudku. Di sini, di perkampungan ini telah kita saksikan hidup dan pelajaran tentang kematian yang alami. Aku, kamu, dan orang-orang tumbuh di tengah kemiskinan. Dan kita belajar di atasnya. Membaca isyarat, mengeja huruf-huruf tentang kemanusiaan, dan kebersamaan. Tapi di tempat ini segalanya juga keras, seperti gedung-gedung yang menjulang jauh di sana. Angkuh dan tak mau tahu. Keras seperti sifatmu.”
Perkampungan kumuh biasanya juga padat penduduk, sanitasi yang tidak baik dan tentunya lingkungan sekitar membuat banyak penyakit menyerang. Demam berdarah, salah satu penyakit yang rutin menyerang di musim pancaroba, virus ini senang berda di tempat-tempat lembab dan perkampungan kumuh yang padat penduduk menjadi sasaran empuk.
Dari penggalan di atas juga bisa dikaitkan dengan judul cerpen ini Orang-orang Batu. Penulis ingin menggambarkan realitas dari dua sisi, kaya maupun miskin mereka sama saja kerasnya. Kepentingan dengan kepentingan saling beradu, bukan yang paling kuat atau yang paling pintar yang bertahan, tapi yang paling punya uang. Mendengar kata penggusuran sering pikiran kita tertuju pada SATPOL PP atau para preman-preman yang tanpa belas kasihan. Padahal mereka sama dengan posisi kita. Sama-sama miskin dan sedang menjalankan tugas untuk mencari uang. Kadang juga mereka tidak ingin melakukan itu, namun apa daya. Orang miskin ditarungkan dengan orang miskin. Orang-orang batu! Sama kerasnya.
Tokoh Siti mempresentasikan sosok kebanyakan perempuan di masa kini rajin, pintar, dan mau bekerja keras namun tidak bisa menikmati bangku pendidikan sebagaimana mestinya. Anak perempuan satu-satunya dari kedua orang tua yang sama-sama menjadi buruh serabutan. Fakta ini bisa ditemui pada masyarakat kita sekarang ini, betapa tidak banyak sekali anak-anak yang memiliki potensi dan juga keinginan untuk belajar hanya karena nasibnya menjadi miskin dia tidak bisa sekolah.
“Bu, kamu ini jangan suka bermimpi. Sekolah itu mahal. Jauh dari jangkauan orang-orang seperti kita. Beda dengan Nak Robin.”
“Tapi Siti kan pintar dan rajin. Juga patuh pada orang tua.”
“Yang bias masuk sekolah kan bukan yang pintar, rajin, atau patuh, tapi yang punya duit.”
Sepenggal dialog yang menyatakan bahwa sekolah itu untuk orang yang berduit, tidak cukup dengan pintar, rajin, patuh, atau sekedar punya keinginan untuk belajar.
“Mas Robin, katamu, perempuan harus mampu menjadi baja. Siap ditempa menjelma apa saja. Seperti keris yang pantang menangis. Mas Robin, kami di mana? Aku mencarimu. Mengertikah, saat ini aku mengandung anakmu, Mas!”
Penggalan di atas member kabar bahwa kini Siti tengan mengandung anak Robin, padahal mereka belum menikah. Fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat yaitu hubungan intim sebelum pernikahan. Entah alasan globalisasi, modernitas, budaya metropolitan, atau apalah namun para muda-mudi sudah sring melakukan hubungan intim tanpa dosa meski belum menikah.



DAFTAR PUSTAKA

Indriyana, Hasta. 2005. Perempuan Tanpa Lubang. Yogyakarta: Pinus.
Wiyatmi. 2008. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.